Kamis, 27 Februari 2014

GUBERNUR SULAWESI TENGAH DUKUNG GERAKAN LITERASI LOKAL

Penulis menyerahkan beberapa buku tentang seni-budaya daerah Sulawesi Tengah pada Gubernur Sulawesi Tengah di ruang kerjanya, Kamis (27 Pebruari 2014)

Kamis, 23 Januari 2014

KOLEKSI BUKU-BUKU SULAWESI TENGAH karya JAMRIN ABUBAKAR



KOLEKSI BUKU-BUKU SULAWESI TENGAH
karya JAMRIN ABUBAKAR



Judul Buku     : 9 TOKOH BERSEJARAH SULAWESI TENGAH
Penulis           : Jamrin Abubakar
Ukuran           : 14 X 20 Cm
Tebal             : 96 halaman
Penerbit        : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Tengah, 2012

Stok             : Habis

ADA banyak tokoh bersejarah di Sulawesi Tengah, tapi hanya sedikit buku yang membicarakan tentang sosok dan kiprah mereka dalam pergulatan sejarah di berbagai bidang. Padahal pembentukan Sulawesi Tengah menjadi salah satu provinsi di Indonesia termasuk memiliki sejarah proses yang cukup menarik. Dibentuk melalui perjuangan berliku yang di dalamnya melibatkan banyak tokoh penting dari daerah hingga ke pusat pemerintahan RI. Selain itu  kelak ada pula tokoh yang mewarnai dinamika sosial budaya dalam mengisi pembangunan setelah lahirnya provinsi.
9 tokoh yang dimaksud dalam buku ini yaitu:

(1)  Drs. H. Galib Lasahido (tokoh birokrat dan putra daerah Sulawesi Tengah pertama yang menjabat gubernur),

(2)  Drs. H. Rusdy Toana (tokoh pers/akademisi yang memiliki andil dalam pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah),

(3)  Ladudin Bungkato (tokoh buruh/pendiri GASBIINDO Sulawesi Tengah),

(4)   Masyhuddin Masyhuda, BA (budayawan dan pendiri Museum Negeri Sulawesi Tengah),

(5)  Alimin Lasasi (tokoh seni teater Palu yang berkiprah secara nasional),

(6)  H. Hamid Rana (tokoh pers dan Ketua PWI pertama Sulawesi Tengah),
(7)  H. Ischak Moro (tokoh politik senior dalam pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah),

(8)  J.K. Tumakaka (tokoh politik dan putra daerah Sulawesi Tengah yang pertama menjabat menteri) dan

(9)  Dra. Hj. Zulfikar Abdullah (tokoh perempuan bidang pendidikan dan politik).





Judul Buku    : TERJADINYA LEMBAH PALU
Penulis          : Jamrin Ab ubakar
Ukuran           : 17 X 23 Cm
Tebal             : 62 halaman
Penerbit        : Dewan Kesenian Palu, 2011
Harga            : Rp 35.000,-

Stok              : Tersedia



Buku ini berisi cerita rakyat Tanah Kaili, Sulawesi Tengah terutama dalam lingkup Lembah Palu dan sekitarnya yang selama ini hanya dituturkan dari mulut ke mulut. Kemudian dieksploitasi menjadi cerita lisan berdasarkan sumber dari masyarakat asal cerita atau legenda. Yaitu: 1. Terjadinya Lembah Palu, 2. Legenda Bengga Bula, 3. Legenda Yamamore di Pusentasi, 4. Legenda Danau Dampelas, dan 5. Asal Mula Kaledo.



Judul   Buku    : ORANG KAILI GELISAH (Catatan Kecil Seorang
                          Wartawan)
Penulis           : Jamrin Abubakar
Tebal              : 116 halaman
Ukuran            : 13 X 19 Cm
Penerbit          : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah, 2010
Harga             : Rp 35.000,-

Stok                : Tersedia


BUKU Orang Kaili Gelisah Catatan Kecil Seorang Wartawan merupakan kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan di surat kabar lokal   mengenai peristiwa seni dan budaya di Kota Palu. Temanya  memiliki kaitan dengan denyut “nadi” sosial budaya To Kaili (Orang Kaili) sebagai salah satu suku terbesar dan tersebar di Sulawesi Tengah, utamanya di Kota Palu. To Kaili yang  diidentifikasi  dengan  adat istiadat dan bahasa sendiri serta berbagai sub-dialek dan karakter tersendiri yang menunjukkan  sebagai suku sangat menarik dibicarakan. Meskipun  tulisan  yang terhimpun dalam buku ini terpisah satu sama lainnya atau tidak terfokus pada kajian tentang Kaili itu, setidaknya  mencerminkan sebuah “Kegelisahan” Orang Kaili dalam mengarungi dan menghadapi kebudayaan global.  Akibatnya, Kaili di antara beragam pertemuan budaya suku-suku lain yang mengindonesia  nyaris kehilangan identitas.
Salah satu indikasinya, soal bahasa Kaili yang penuturnya semakin berkurang  terutama di Kota Palu. Ancaman kepunahan bahasa Kaili bukan saja menjadi kegelisahan bagi pemerhati budaya, tetapi juga merupakan kegelisahan pemilik budaya Kaili itu sendiri karena mulai tercerabut dari akarnya. Ada banyak orang di Palu masih mengaku  Orang Kaili hanya karena kedua orang tuanya berlatar belakang suku Kaili, namun tidak bisa lagi berbahasa Kaili.



Judul Buku       : MENGGUGAT KEBUDAYAAN TADULAKO DAN DERO
                           POSO
Penulis              : Jamrin Abubakar
Tebal                 : 111 halaman
Ukuran               : 14 X 20 Cm
Penerbit             : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah, 2011
Harga                 : 40.000,-

Stok                   : Tersedia


Buku ini berisi perdebatan atau polemik para tokoh budaya (budayawan) Sulawesi Tengah terhadap gagasan kontroversi seorang tokoh pers dan pendidikan H. Rusdy Toana (alm) tentang keinginan membentuk yang namanya “Kebudayaan Tadulako” pada tahun 1996. Gagasan yang ingin merangkul beberapa etnis dengan masing-masing latar belakang di Sulawesi Tengah dengan harapan  ada  kesepakatan satu kebudayaan bernama Tadulako.
Rusdy Toana  pencetus yang mendapat dukungan dari beberapa tokoh  Sulteng itu membuahkan polemik. Pro-kontra bukan saja di antara tokoh bersangkutan yang ikut membicarakan, tapi juga kalangan akademisi dan budayawan, secara terang-terangan menyatakan menolak gagasan Kebudayaan Tadulako. Dalam polemik ini melibatkan budayawan Sulteng, Prof.  Tjatjo Taha, ahli bahasa Dr. Hanafi Sulaiman, politisi senior H. Hasan Tawil, budayawan/sejarawan, Masyhuddin Masyhuda dan TS. Atjat. Mereka berpolemik dalam media dan berkahir tidak tercapainya apa yang diinginkan Rusdy Toana. Namun gagasan tersebut cukup melegenda sebagai Polemik Kebudayaan tingkat lokal.




Judul Buku       : PERJALANAN DAN PEMIKIRAN H. HAMID RANA
                          MENULIS ZAMAN DENGAN IFTITAH
Editor               : Jamrin Abubakar
Tebal               :  283 halaman
Ukuran             : 14 X 20 Cm
Penerbit           : Yayasan Pendidikan Mitra Ilmu, 2011
Harga               : Rp 50.000,-

Stok                 : Tersedia


Dari ratusan kolom Hamid Rana yang terselamatkan dari arsip-arsip edisi Koran MAL, di sini dipilih sebanyak 101 tulisan dalam kurun waktu penulisan 1995-2001. Pemilihan tulisan masa tersebut untuk mewakili dua masa  perubahan sosial politik dari ujung kekuasaan pemerintahan Orde Baru (Orba) ke masa pemerintahan Reformasi, setidaknya tercermin pula dalam pilihan tema-tema tulisan Hamid Rana pada zamannya.
Tentunya dengan harapan pembaca dapat memahami suatu masa tentang beragam dinamika sosial, budaya, poilitik dan ekonomi pada saat kolom tersebut diterbitkan. Dalam sejarah perkembangan pers di Sulawesi Tengah, Hamid Rana termasuk salah satu tokoh penting dalam pembentukan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia Sulteng.


Judul Buku   :  GURU TUA PAHLAWAN SEPANJANG ZAMAN
Penulis        : Jamrin Abubakar
Tebal           : 107 halaman
Ukuran         : 14 X 20 Cm
Penerbit       : Ladang Pustaka, 2012

Stok             : Habis 

Buku ini menyajikan tentang sosok perjalanan dan pemikiran seorang gurubesar dari berbagai sisi yang disertai pandangan dan kesaksian dari sejumlah murid-muridnya. Sekaligus mengungkap sisi lain yang tak semua orang mengetahui terutama bagi generasi muda yang hidup pada saat tokoh besar itu telah tiada. Tetapi sosok dan mahakaryanya telah menjadi legenda sebagai “Pahlawan Sepanjang Zaman” yang melahirkan mahakarya bernama lembaga pendidikan Alkhairaat yang berpusat di Kota Palu dan kemudian menyebar ke sejumlah provinsi.
Dia adalah Guru Tua sebutan bagi Al-Alimul Allamah Al-Habib Sayed Idrus bin Salim Aldjufri (S.I.S Aldjufri) sangat dikenal di Sulawesi Tengah. Bahkan di sejumlah wilayah di Kawasan Timur Indonesia, namanya bukan saja dikenal sebagai ulama kharsmatik, tapi juga tokoh pendidikan, tokoh kemanusiaan, diplomat, pedagang, sastrawan dan berbagai sebutan lainnya. Gelar Guru Tua memiliki makna guru yang dituakan sama halnya sebutan “Tuan Guru,” bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat atau sebutan “Andregurutta” di Tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Hal ini  menunjukkan kalau Habib Idrus bin Salim Aldjufri memiliki kharisma dalam menjalankan dakwah Islam sepanjang hidupnya. Pemerintah menganugrahinya Bintang Mahaputra Adipradana tahun 2010.



Judul  Buku    :  MISTERI NEGERI SERIBU MEGALIT
Penulis           : Jamrin Abubakar
Tebal              : 79 halaman
Ukuran           : 14 X 20 Cm
Penerbit          : Ladang Pustaka, 2012
Harga             : Rp 35.000,-

Stok                : Tersedia


SULAWESI TENGAH yang eksotik memiliki mahakarya purbakala zaman megalitikum yang mengagumkan di dataran tinggi Tanah Lore yang tersebar di Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada Kabupaten Poso hingga Lembah Palu merupakan anugrah yang tak ternilai. Ribuan tahun Sebelum Masaehi di dataran tersebut terdapat peradaban sangat tinggi yang jejaknya hingga kini masih terlihat.
Namun yang jadi pertanyaan dari mana dan kemanakah mereka para pembuat megalit itu? Sebaran megalit berbagai bentuk, ukuran dan kegunaan itu bukan saja menjadi pusat kajian arkeologi, tapi sekaligus  menarik untuk kunjungan wisata budaya yang menyimpan mitos. Itulah  misteri negeri seribu megalit.”




Judul  Buku     : 13 TOKOH BERSEJARAH SULAWESI TENGAH
Penulis            : Jamrin Abubakar
Tebal              : 140 halaman
Ukuran            : 14 X 21 Cm
Penerbit          : Dinas pendidikan dan kebudayaan Sulawesi Tengah, 2013

Stok              : Habis


Buku ini berisi 13 Tokoh Bersejarah dalam proses pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah, namun dalam perjalanan sejarah telah terlupakan. Padahal pada zamannya, di antara tokoh itu merelahkan jiwa dan raganya demi perjuangan sebuah daerah otonomi sendiri. Kehadirannya patut dicatat dalam sejarah sebagai rangkaian sejarah nasional. Ke 13 tokoh tersebut antara lain:

1.            Abdul Azis Larekeng
           (Tokoh Birokrat Sulawesi Tengah)

2.            Abdul Azis Lamadijido
           (Mantan Gubernur/Bapak Gerbosbangdesa)
         
3.            Andi Raga Pettalolo
           (Tokoh Diplomasi Bidang Olah Raga)

4.            Andi Tjella Nurdin 
           (Tokoh Politik dan Perintis Pers di Donggala)

5.            Asa Bungkundapu
           (Tokoh GPST/Anti Permesta)

6.            H. Hasan Tawil
           (Tokoh Gerakan Pramuka)

7.            Kartini Pandan Yotolembah
           (Tokoh Pendidikan Kaum Perempuan)

8.            M.A. Intje Makkah
          (Perintis Pers Sulawesi Tengah)

9.            R.M Kairupan Malonda
           (Tokoh Politik Kaum Perempuan)

10.         Thayeb H. Muda
(Tokoh Adat dan Perintis Pembentukan Provinsi Sulteng)

11.         Umar Papeo
            (Tokoh  Laskar  Pemuda Indonesia Merdeka)

12.         Zainal Abdin Betalembah
           (Tokoh Cendekiawan Muslim dan Pendiri GPPST)

13.         Zainuddin Abdul Rauf 
           (Tokoh Parlemen Sulteng



Judul Buku     : MATINYA SANG TADULAKO (Sehimpun Cerita Rakyat             
                       Sulawesi Tengah)
Penulis           : Jamrin Abubakar
Tebal              : 116 halaman
Ukuran           : 14 X 20 Cm
Penerbit         : Ladang Pustaka, 2013
Harga            : Rp 35.000,-

Stok              : Tersedia


Adapun ringkasan cerita dalam buku ini yaitu sebagai berikut:

MPOLENDA YANG TERKUTUK: Mpolenda seorang pemimpin otoriter yang sulit dikalahkan dalam peperangan, sehingga bertindak sewenang-wenang menguasai segala sumber ekonomi. Selain sombong dan takabur, juga menganggap dirinya paling berkuasa. Akhirnya Mpolenda bersama istri dan anaknya mendapat kutukan jadi patung megalit. Sampai sekarang patung tersebut dapat dilihat di Desa Wanga Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

GADIS KULAVI DALAM POHON: Perburuan yang dilakukan Sadomo, pemuda dari tanah Kaili sampai ke dataran Kulavi membuatnya tersesat di tengah hutan. Meskipun tidak mendapatkan binatang buruan, tapi seorang gadis cantik keluar dari dalam pohon yang kemudian dijadikan istri dan menjadi asal-usul suku Kulavi di Kabupaten Sigi.

TUMBAL DI PULAU PELING: Berawal dari musim paceklik, mengakibatkan Baku putra seorang pemimpin adat meninggal dunia. Tetapi kemudian dari dalam kuburnya tumbuh ubi besar yang kemudian menjadi sumber makanan pokok di Pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan. Konon itulah asal mula adanya Ubi Banggai yang dipercaya sebagai jelmaan dari manusia.

MATINYA SANG TADULAKO: Panglima perang yang tak pernah terkalahkan dalam berbagai perang antarsuku. Memiliki kesaktian yang sulit ditandingi lawan-lawannya, namun tiba masanya berakhir. Sang Tadulako mati tragis setelah kepalanya ditumbuk alu oleh kekasih yang dikhianatinya. Sampai sekarang patung Tadulako dapat dilihat di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso.

TRAGEDI YAMAMORE: Yamamore putri seorang Raja Towale melarikan diri dari istana demi menghindari perkawinan paksa. Dalam pelariannya, ia bersembunyi dengan cara mencemplungkan diri ke dalam telaga air asin. Maka sejak itulah Yamamore menghilang dan tempatnya dinamai pusat laut atau Pusentasi.

PERANG MAHADIYAH: Berawal dari keinginan Sang Pelaut menaklukkan Negeri Dampelas, akhirnya terjadi perlawanan dari Mahadiyah. Peperangan pun terjadi hingga telaga yang dijadikan area pertarungan kemudian menjadi Danau Dampelas di Desa Talaga.

SANG PUTRI DAN BENGGA BULA: Putri cantik dari Tanah Kaili diasingkan karena terserang penyakit cacar di tubuhnya. Dalam pengasingan itulah ia dikejar dan dijilat seekor Bengga Bula (kerbau putih), sehingga kulitnya sembuh. Sejak itu pula pihak raja dan keturunannya pantang makan daging kerbau putih.

PERKELAHIAN LABOLONG DENGAN LINDU: Berawal perkelahian Labolong (seeokor anjing raksasa) dengan Lindu (belut raksasa) di sebuah telaga kecil, akhirnya air meluap menjadi danau. Tempat tersebut kemudian dinamai Danau Lindu yang dalam bahasa setempat Lindu berarti belut.

LEGENDA SANG PALINDO: Patung megalit Palindo atau Molindo di Padang Sepe, dataran tinggi Bada yang mengisahkan tentang tokoh perlawanan terhadap serangan dari Kerajaan Luwu. Konon Palindo yang bentuk miring dengan tangah mengarah ke kelaminnya itu menunjukkan simbol persatuan orang Bada zaman dahulu tak mau ditaklukkan.

CERITA TENTANG KUCING KERAMAT: Seekor kucing menyelam ke dalam telaga mengambil jarum milik Sang Putri yang jatuh. Akibatnya, kucing itu basah kuyub dan tak lama kemudian hujan deras dan banjir datang sehingga terbentuklah sebuah danau besar. Dalam mitologi beberapa suku di Sulawesi Tengah, kucing masih disakralkan tidak boleh disakiti atau disiram karena dipercaya akan menimbulkan bencana.

PETUALANGAN SAWERIGADING DI KERAJAAN SIGI:
Saat akan dilakukan perlagaan ayam milik sang pelaut Sawerigading dengan ratu Ngilinayo, tiba-tiba terjadi gempa dahsyat. Memporak-porandakan negeri Lembah Kaili membuat kapal Sawerigading hancur dan banjir bandang tiba dan tanah longsor menimbun laut teluk Kaili menjadi lembah.



 Judul Buku    : DONGGALA DONGGALA’TA DALAM PERGULATAN
                          ZAMAN
Penulis          : Jamrin Abubakar
Ukuran          : 14, 5 X 21 Cm
Tebal             : 207 halaman
Penerbit        : Ladang Pustaka, 2013
Harga            : Rp 75.000,-

Stok               : Tersedia


Buku ini mengungkap berbagai kekayaan sejarah dan budaya Kota Donggala Tempo Doloe yang kini terlupakan dalam sejarah. Zaman dahulu kota pelabuhan dan kota pemerintahan Hindi Belanda di Sulawesi Tengah ini pernah mengalami kejayaan sebagai salah satu pusat perdagangan dan ramai disinggai kapal-kapal niaga asing dan nusantara.
Berbagai peninggalan kolonial kini terlentar tak terurus dan berbagai peristiwa sosial dan perjuangan melawan penjajah, terungkap dalam buku ini. Sebanyak 21 artikel dalam buku ini sebagai persembahan untuk pembaca  berbagai kalangan agar dapat mengetahui betapa pentingnya Kota Donggala zaman dahulu sebagai gerbang perekonomian Sulawesi Tengah.
Donggala donggala’ta berarti Donggala adalah milik kita bersama, siapapun dapat mengambil peran sesuai bidangnya demi kemajuan pembangunan. Setidaknya harapan itu diinginkan penulis dengan mengungkap sejumlah fakta dari sebuah perjalanan panjang perkembangan Donggala, terutama adanya tinggalan sejarah dan budaya, namun nyaris terlupakan. Tetapi dengan adanya buku ini, dapat “mengingatkan” kita tentang apa yang sebelumnya terlupakan atau belum diketahui, kemudian sedikit  tercerahkan.


Senin, 06 Januari 2014